Denmark Akan Musnahkan 17 Juta Cerpelai Akibat Mutasi Corona

 Denmark berencana memusnahkan keseluruhan populasi cerpelainya yang diperkirakan berjumlah 17 juta ekor. Wacana ini dikemukakan menyusul laporan yang menyebutkan bahwa hewan dapat menularkan mutasi virus corona kepada manusia.

Baca Juga: Corona Belum Berakhir, Hadirlah Norovirus

Pengumuman mengenai rencana pemusnahan cerpelai ini datang dari Perdana Menteri Mette Frederiksen dalam sebuah konferensi pers. Sementara itu, belum ada laporan ilmiah terkini mengenai mutasi virus tersebut maupun dampak yang ditimbulkannya. 

“Kami memiliki tanggung jawab besar terhadap populasi kami sendiri, tapi dengan mutasi yang telah ditemukan ini, kami memiliki tanggung jawab yang lebih besar pula untuk seluruh dunia,” ujar Mette, sebagaimana dikutip dari NBC News, Kamis (5/11).

Dilansir dari The Verge, virus tersebut ditemukan pada lebih dari 200 peternakan cerpelai di Denmark, yang menjadi produsen dari sebagian besar pasokan bulu cerpelai di seluruh dunia. Sebanyak lebih dari 1 juta hewan di peternakan Denmark telah dimusnahkan pada bulan Oktober. 

Di musim panas ini, sekitar 100,000 ekor cerpelai dimusnahkan di Spanyol setelah terjadi wabah yang serupa. Wabah yang terjadi di peternakan cerpelai di Utah pun telah membunuh ribuan ekor hewan tersebut.

Rencana pemusnahan cerpelai di Denmark itu diumumkan setelah 12 orang rakyatnya diketahui terinfeksi oleh jenis virus corona baru yang juga ditemukan pada peternakan cerpelai. Langkah pemusnahan itu diambil dengan harapan dapat mencegah penyebaran mutasi virus.

Kare Molbak, Direktur di Pusat Penelitian Statens Serum Institut mengatakan jika pembiakan cerpelai tidak segera dihentikan, maka akan timbul risiko yang membahayakan kesehatan publik, baik secara nasional maupun internasional.

Meskipun Frederiksen mengklaim jika jenis virus baru ini lebih tidak mudah terpapar antibodi yang menyerang virus, hingga kini belum ada data ilmiah yang terungkap ke khalayak umum mengenai mutasi maupun perilaku dari virus ini. Masih dibutuhkan penggalian lebih lanjut untuk dapat memahami mutasi dan dampak yang mungkin dtimbulkan pada masa pandemi ini, serta pengaruhnya pada rencana perawatan dan vaksin. 

Baca Juga: Tim Ini Sabet Juara untuk Ide Pembungkus Jenazah COVID-19

“Para ilmuwan akan memberikan update setelah kami mendapatkan informasi baru,“ demikian cuitan Emma Hodcroft, seorang ahli virus dan peneliti post-doktoral di University of Basel, Swiss.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *