Rahasia Manfaat Brand Storytelling untuk Bisnismu

Foto: Digimark Communication

Bercerita adalah bagian dari aktivitas yang dilakukan manusia sejak lama. Seiring perkembangan peradaban, lahirlah beragam teknologi, media, dan platform yang memungkinkan seseorang untuk bercerita dalam beragam format dan metode serta media yang berbeda. Semua ini pada akhirnya memengaruhi proses kreatif manusia dalam membangun cerita dan narasi serta memengaruhi berbagai bidang kehidupan, termasuk bisnis.

Di era seperti sekarang ini, kita melihat begitu banyak bisnis dan perusahaan yang mulai memanfaatkan metode marketing yang berbentuk cerita. Ceritanya pun memiliki variasi yang spesifik – Ada yang bercerita soal brand bisnisnya, industri yang dimasuki bisnisnya, bercerita tentang produk bisnisnya, hingga membagikan ilmu yang terkait dengan produknya. Metode ini biasa disebut sebagai brand storytelling. Lantas, kenapa brand storytelling menjadi penting dan mulai banyak digunakan?

Mengapa Sebuah Bisnis Harus Bercerita?

Secara ilmiah, ketika seseorang mendengar cerita yang relatable atau diceritakan dengan baik, hormon oksitoksin akan meningkat. Hormon inilah yang menumbuhkan rasa empati dan kepercayaan dalam dirinya terhadap cerita tersebut, bahkan juga memengaruhi perilaku sosialnya.

Inilah alasan utama kenapa storytelling menjadi krusial bagi bisnis. Ketika kamu mampu menciptakan koneksi terhadap calon pelanggan dan pelanggan setiamu, maka mereka akan tergerak untuk lebih membeli produk atau menggunakan jasamu dan merasa bahwa mereka adalah bagian dari bisnismu.

Namun, bercerita dalam bisnis bukan hanya memberitahu informasi atau menceritakan produk. Storytelling dalam bisnis lebih dari sekadar itu.

Membangun Cerita yang Memikat

Melakukan storytelling bukan perkara mudah. Kegiatan ini bukan hanya soal merangkai kata-kata atau membuat video naratif dengan editing yang meriah dan penuh gaya. Storytelling adalah tentang membuat cerita yang ‘ngena’ dan mampu mengolah perasaan orang-orang. Untuk dapat melakukannya, kamu dapat melihat beberapa tips di bawah ini :

1. Buat Kesan yang Personal

Cerita yang baik adalah cerita yang bisa dirasakan oleh tiap individu yang membacanya. Maka dari itu, sebuah cerita harus dapat dibuat dengan perspektif yang personal pula, entah itu dari kacamata sebagai pebisnis, pelanggan setia, hingga pegawai.

2. Jawab Kebutuhan Individu

Bisnismu tidak harus bercerita tentang perusahaan secara terus menerus. Kamu bisa fokus bercerita tentang bagaimana bisnismu dapat menjangkau masalah suatu individu yang kamu targetkan dan menjawab masalahnya.

3. Libatkan Pelangganmu

Pelanggan bisnismu punya cerita atau pengalaman yang bisa kamu bagikan. Dengan menjadikan mereka sebagai bagian dari cerita dan bisnismu, mereka akan lebih tersentuh dan merasa terlibat di dalamnya.

4. Jangan Remehkan Aspek Sosial

Jika bisnismu peduli dengan aspek sosial untuk menciptakan perubahan yang lebih baik, kamu bisa menyelipkan kampanye atau misi bisnismu dalam memengaruhi masyarakat dan lingkungan dengan lebih positif. Orang-orang yang peduli akan misi dan aksi dari bisnismu dalam mengubah sesuatu berpotensi untuk ikut tergerak dalam melakukan perubahan yang diinginkan.

Dollar Shave Club dan Spotify : Dua Contoh Sempurna

Pada satu waktu, dua orang asing, yakni Michael Dubin dan Mark Levine, bertemu di satu pesta berbincang dan mengeluhkan masalah yang sama yang mereka hadapi dalam keseharian mereka : Harga pisau cukur yang terlampau tinggi. Mereka pun sepakat mendirikan Dollar Shave Club, startup yang menjual beragam pisau cukur dan alat grooming pribadi dengan harga terjangkau.

Meski terkesan sebagai bisnis yang aneh, Michael Dubin, yang sebelumnya rutin bekerja menjadi improv comedian, menggunakan pendekatan yang humoris dan solutif untuk menjawab permasalahan orang-orang yang memiliki masalah yang sama dengannya. Hasilnya : Sebuah video promosi yang viral dan berujung pada 12.000 pesanan pisau cukur dalam 2 hari saja.

Dalam videonya, Michael Dubin menekankan semua fitur dan kualitas pisau cukurnya serta jualan utamanya, yakni bahwa pisau cukur tersebut punya harga yang terjangkau tanpa biaya tambahan apapun, yang mana hal ini memosisikan Dollar Shave Club sebagai solusi atas permasalahan pisau cukur mahal. Semua dibumbui dengan pembawaan yang jenaka dan humoris sehingga mampu mengikat emosi dan perhatian penonton.

Sementara itu, hal yang berbeda dilakukan Spotify. Karena bermain pada industri music streaming, maka Spotify tidak menyia-nyiakan apa yang menjadi jualan utamanya, yakni lagu. Pada 2014, Spotify menggunakan hashtag #thatsongwhen untuk membangkitkan memori seseorang tentang lagu tertentu dan kisah yang pernah mereka alami terkait lagu tersebut. Cara ini sukses meramaikan pengguna media sosial untuk berbagi lagu yang pernah mereka dengar dan membangkitkan perasaan nostalgia yang mendalam.

Metode storytelling dalam bisnis mempunyai potensi yang besar di masa depan. Masyarakat perlahan mulai lebih peduli kepada bisnis yang mampu menyentuh aspek emosional mereka dan membuat mereka tergerak. Terlebih lagi, ketersediaan platform dan media yang variatif membantu kita untuk lebih kreatif dalam mengkreasikan cerita untuk bisnis kita. Jadi, jangan pandang metode ini sebelah mata untuk membantumu mengembangkan bisnismu dan menarik perhatian serta kepercayaan orang banyak ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *