5 Fakta Mutasi Virus Corona Eek yang Sedang Hebohkan Jepang

 Virus Corona COVID-19 diketahui telah bermutasi dan menambah beberapa varian baru yang diketahui lebih menular. Varian baru tersebut muncul di Afrika Selatan dan Brasil.

Belum lama ini Tokyo juga mengidentifikasi mutasi yang diyakini mengurangi efektivitas vaksin yang disebut dengan varian ‘Eek’, nama lain untuk mutasi E484K.

Terbaru, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan telah menemukan mutasi virus Corona Eek di Indonesia. Varian itu ditemukan setelah melalui pemeriksaan Whole Genome Sequence (WGS) pada Februari 2021.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman khawatir mutasi virus Corona Eek berdampak pada penurunan efikasi alias kemanjuran vaksin virus Corona yang digunakan saat ini.

Baca juga: Varian Virus Corona Eek Muncul di Jepang, Beda dari Inggris

Berikut beberapa fakta mengenai mutasi COVID-19 varian ‘Eek’, seperti dikutip dari berbagai sumber.

1. Menyebar di Jepang

Foto: Daily Sabah

Pada Maret 2021, sebanyak 10 dari 14 orang yang dites positif COVID-19 di Tokyo Medical and Dental University Medical Hospital hasilnya terinfeksi varian virus Corona Eek. Sementara itu berdasarkan data Februari hingga Maret, terdapat 12 dari 36 pasien COVID yang membawa mutasi virus Corona Eek.

Mutasi virus Corona ini muncul di tengah persiapan Jepang menjadi penyelenggara Olimpiade musim panas pada Juli mendatang.

2. Mutasi dari virus Corona B.1.1.7

Foto: News Medical

Dilansir dari BMJ, Analisis Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) menemukan jika E484K atau Eek merupakan salah satu mutasi dari virus Corona B.1.1.7. Virus Corona B117 ditemui di Inggris dan Afrika Selatan.

3. Mutasinya terjadi di protein spike virus

Foto: Juan Gaertner / Shutterstock via News Medical

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menyebutkan bahwa mutasinya terjadi di protein spike atau yang sering disebut protein S1. Sehingga mengakibatkan reseptor lebih mengikat pada sel manusia menjadi lebih kuat, yang berimplikasi pada cepat dan banyaknya jumlah penularan.

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio mengatakan virus E484K itu dia bisa escape dari antibodi pasca vaksinasi. Namun hal tersebut masih dalam tahap penelitian.

Baca juga: Riset Terbaru: Obat Asam Urat Ampuh Obati Covid-19

4. Ditemukan di Jakarta sejak Februari 2021

Foto: Media Indonesia

Kemenkes menyatakan kasus mutasi Corona Eek yang masuk ke Indonesia didapati berada di Jakarta berdasarkan tes spesimen Februari 2021. Saat ini individu yang terkonfirmasi positif terpapar mutasi virus dari Jepang itu sudah sehat dan terus dipantau Kemenkes.

Menurut laporan Kemenkes, individu yang terpapar tidak habis bepergian ke luar negeri. Ia menyatakan penularan kasus terjadi secara lokal.

Kemenkes masih melakukan pemantauan terhadap penularan kasus Eek. Hingga hari ini belum ada kasus serupa yang ditemui di wilayah lain di Indonesia.

5. Berpotensi menular lebih cepat

Foto: Seru.co.id

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan bahwa varian Corona Eek berpotensi menular lebih cepat.

Selain itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menduga varian Eek memiliki potensi yang mengakibatkan penularan yang lebih masif.

Apalagi saat ini ada tiga varian virus Corona yang tersebar di Indonesia. Ketiga varian tersebut dilaporkan juga memiliki mutasi pada lonjakan protein yang dinamakan E484K.

(dwk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *