Indonesia Buat Pangkalan Militer di Natuna, ini Tujuannya

Foto: Indonesia.go.id

Teknologi.id – Laut Natuna Utara (Laut China Selatan) banyak negara
yang memiliki perbatasan di Selat tersebut, seperti Singapura, Vietnam, China dan
Kamboja.

Indonesia melalui TNI AL dikabarkan
membangun pangkalan militer baru di Natuna, Kepulauan Riau, Selasa 5/4/2021.

Rencana menambah pangkalan
militer itu muncul setelah sejumlah kapal China diketahui memasuki Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Melansir dari Antara, Marsekal
Hadi Tjahjanto kepala TNI, meletakkan batu pertama untuk pembangunan pangkalan
militer Pasukan Tempur Angkatan Laut Komando Armada Pertama.

Baca juga: Indonesia-Korsel Lanjutkan Proyek Pesawat Tempur KFX/IFX

Pangkalan komando itu akan
menjadi bagian dari Komando Eksekutif Operasi Pertempuran di Indonesia barat.

Fungsinya sebagai Pos Komando
Keamanan Angkatan Laut Terintegrasi. Kehadirannya diharapkan membantu
menguatkan Unit TNI Terintegrasi di Natuna, tepatnya di wilayah utara Selat
Karimata.

Natuna menjadi titik sangat
strategis bagi wilayah Indonesia, karena menjadi pintu masuk ke Laut Natuna
Utara. Natuna adalah kunci strategi TNI untuk memperkuat pasukan pertahanan
Indonesia.

Sementara itu, Jepang kian antusias
untuk mengirimkan alutsista ke Indonesia.

Dilaporkan Grid dari The
Diplomat, reporter Sebastian Strangio melaporkan akhir Maret lalu jika Jepang
dan Indonesia sudah sepakat utuk membuka ekspor sektor pertahanan dari Jepang
ke Indonesia.

Baca juga: 7 Senjata Militer Termahal di Dunia, Indonesia Mau Beli?

Pakta itu ditandatangani saat
pembicaraan keamanan “dua plus dua” pada 30 Maret antara menteri
pertahanan dan menteri luar negeri dari kedua negara.

Kedua negara memiliki kepentingan
yang sama yaitu sama-sama khawatir dengan pengaruh dan tekanan China di Laut Natuna
Utara dan Laut Natuna Timur.

Menurut laporan, di bawah ekspor
senjata, Jepang bisa mengirimkan sampai 8 kapal fregat siluman Mogami baru ke
Angkatan Laut Indonesia.

Kapal-kapal itu dikenal dengan
nama 30FFM, 30FF, 30DX, dan 30DEX, mereka adalah fregat mutakhir multi-peran
pertama.

Hal ini menunjukkan tekad
Indonesia untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan meskipun tidak terlibat
kepentingan apapun di Laut Natuna Utara.

(fpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *