Polusi Luar Angkasa Bisa Jadi Tanda Kehidupan Alien

 Apakah alien itu ada? Pertanyaan ini telah menghantui manusia sejak lama. Namun, hingga kini kita belum punya bukti yang meyakinkan kalau peradaban cerdas seperti manusia di Bumi juga ada di planet lain. Meski demikian, kemungkinan keberadaan alien dengan peradaban yang maju bukan berarti tidak mungkin sama sekali. 

Penelitian terbaru dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Maryland menyebut bahwa pencarian polusi alien di luar angkasa, dapat menjadi salah satu indikator menemukan planet ekstrasurya yang berpotensi dapat dihuni.

“Mengamati NO2 (nitrogen dioksida) di planet yang dapat dihuni berpotensi menunjukkan keberadaan peradaban industri,” kata Ravi Kopparapu, penulis utama dari Goddard.

Galaksi adalah rumah bagi banyak exoplanet yang berpotensi mungkin dapat dihuni. Akan tetapi, untuk menentukan apakah ada sesuatu yang benar-benar hidup di dunia ini, para ilmuwan berharap dapat melihat beberapa tanda kehidupan berupa tanda-tanda hayati atau tanda teknologi.

Di Bumi, sebagian besar nitrogen dioksida berasal dari aktivitas manusia, seperti emisi kendaraan dan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Ilmuwan lain menganggap, chlorofluorocarbons (CFC) sebagai tanda kemungkinan aktivitas industri di luar Bumi. 

Baca Juga : Sebentar Lagi Alien Ditemukan, Berbahaya atau Ramah?

“Di atmosfer bawah (sekitar 10 hingga 15 kilometer atau sekitar 6,2 hingga 9,3 mil), NO2 dari aktivitas manusia mendominasi dibandingkan dengan sumber non-manusia. Oleh karena itu, mengamati NO2 di planet yang dapat dihuni berpotensi menunjukkan adanya peradaban industri.”

Kopparapu sendiri adalah penulis utama studi terbaru NASA yang memberikan saran agar manusia cari alien di planet lain lewat polusi. Studi tersebut sudah diposting di situs prapublikasi ilmiah ArXiv pada 9 Februari 2021, dan telah diterima oleh Astrophysical Journal. Sementara ilmuwan lain menganggap chlorofluorocarbons (CFC) sebagai tanda kemungkinan adanya aktivitas industri di luar Bumi.

CFC pernah digunakan di Bumi sebagai zat pendingin, tetapi telah dihapuskan karena efek buruknya pada lapisan ozon. Rekan penulis studi Jacob Haqq-Misra dari Blue Marble Institute of Science di Seattle mencatat, CFC juga dapat digunakan untuk membentuk dan menghangatkan atmosfer planet seperti Mars agar lebih layak huni.

“Sejauh yang kami tahu, CFC sama sekali tidak dihasilkan dari proses biologi. Jadi mereka memiliki tanda teknologi yang lebih jelas daripada NO2,” kata Haqq-Misra.

Para peneliti menjelaskan dalam risetnya bahwa polusi nitrogen dioksida di planet lain dapat diamati dari Bumi. Dalam pemodelan komputer yang dijelaskan di riset, gas nitrogen dioksida dapat menyerap warna cahaya yang tampak (visible light). Artinya, polusi itu dapat diukur dengan mengamati cahaya yang dipantulkan dari planet yang diamati.

Meski demikian, deteksi alien lewat polusi memiliki tantangan. Sebab, nitrogen dioksida juga bisa dihasilkan secara alamiah. Di Bumi sendiri, misalnya, sekitar 24 persen gas nitrogen dioksida dihasilkan dari non-industri. Jadi, keberadaan nitrogen dioksida di sebuah planet enggak pasti menunjukkan bahwa di sana ada peradaban cerdas seperti di Bumi.

NASA berharap dengan bantuan generasi baru teleskop seperti James Webb Space Telescope (JWST), akan mampu mendeteksi polusi alien di luar Bumi.

(cf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *