Kontroversi Peneliti Tumbuhkan Sel Manusia di Embrio Monyet

Foto: BBC

Teknologi.id – Para peneliti berhasil mengembangkan
sel manusia di dalam sebuah embrio seekor monyet. Hal tersebut bertujuan untuk
memahami bagaimana sel tersebut berkembang dan berkomunikasi antar satu sama
lain. Tetapi, keberhasilan tersebut memicu kontroversi etika.

Hasil penelitian dari Juan Carlos
Izpisua Belmonte dari Salk Institute di California, AS, dan rekan-rekannya berhasil
menghasilkan apa yang dikenal sebagai manusia-monyet chimera dari sel punca
(stem cell) manusia.

Sel punca adalah sel khusus yang
memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel. Dalam
penelitian ini, sel punca dimasukkan ke dalam embrio kera di cawan petri di
laboratorium.

Tetapi di balik keberhasilan tersebut,
beberapa pakar etika mengungkapkan keprihatinannya. Mereka berpendapat hal tersebut
berpotensi menimbulkan tantangan etika dan hukum yang signifikan.

Chimera sendiri merupakan organisme
yang selnya berasal dai dua buah individu atau lebih. Pada manusia, chimerism
secara alami dapat berkembang setelah bertransplantasi organ. Itu bisa terjadi
ketika sel-sel dari organ tersebut mulai tumbuh di bagian tubuh, lain.

Baca juga: Elon Musk Buat Monyet Bisa Main Game, Gimana Caranya?

Terkait kontroversi ini, Izpisua
Belmonte mengatakan bahwa hasil kerja timnya dapat berguna karena membuka jalan
untuk mengatasi kekurangan organ yang dapat ditransplantasikan.

“Ini juga membantu kita lebih
memahami tentang perkembangan awal manusia, perkembangan penyakit, dan penuaan.
Pendekatan chimeric ini bisa sangat berguna untuk memajukan penelitian biomedis
tidak hanya pada tahap paling awal kehidupan, tetapi juga tahap kehidupan
terbaru,” jelasnya Belmonte.

Ini bukan kali pertama Izpisua
Belmonte melakukan hal serupa. Pada 2017, dia dan rekan-rekannya menciptakan
chimera manusia-babi pertama di dunia. Mereka memasukkan sel-sel manusia ke
dalam jaringan babi tahap awal.

Namun hasilnya, ditemukan bahwa sel-sel manusia
di jaringan babi memiliki komunikasi molekuler yang buruk. Jadi, tim memutuskan
untuk menyelidiki chimera yang tumbuh di laboratorium menggunakan spesies yang
lebih dekat hubungannya dengan manusia yakni kera.

(MIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *