Neuralink Milik Elon Musk Banjir Kecaman dari Peneliti

Foto: Wallpaper Cave

Teknologi.id – Elon Musk mengungkapkan, startup
Neuralink yang ia dirikan dapat berpotensi menyembuhkan penyakit neurologis
seperti Alzheimer dan Parkinson dengan menanamkan chip pada otak manusia.

Di sisi lain, hal ini sekaligus
mengusulkan penggunaan teknologi untuk menggabungkan manusia dengan komputer.

Langkah ini akan memberi sebagian
besar orang kecerdasan manusia super yang menghubungkan otak ke cloud, di mana
ingatan dapat disimpan, pikiran dapat ditukar, dan pengalaman dapat diperoleh.

Kendati kemampuan chip yang
ditanamkan terdengar tak terbatas, hal tersebut rupanya memiliki tanggung jawab
yang besar dan tanggung jawba tersebut harus ditanggung oleh Musk dan perusahaannya,
khususnya di bagian privasi.

“Jika penggunaan yang meluas
menjadi mengaitkan manusia ke cloud, bukan sebagai terapi, dan menggabungkan
manusia dengan AI, model ekonominya adalah menjual data kita,” ucap Dr.
Susan Schneider, direktur pendiri Center for the Future Mind.

Baca juga: Uang Kripto dan Pandangan Elon Musk

Neuralink sebelumnya cukup mengagetkan
publik dengan menggunakan neuron pada babi dan hasil terbaru pada monyet yang
mampu memainkan video game dengan pikirannya. Meskipun terlihat mengagumkan,
tetapi banyak ahli tidak yakin ke mana arah Neuralink.

Menurut Anna Wexler, asisten profesor
di Department of Medical Ethics and Health Policy, University of Pennsylvania,
Neuralink belum menjelaskan dengan jelas tentang tujuan mereka untuk perangkat
tersebut.

“Menurut saya, mereka bertujuan
untuk memberi pengguna kendali atas perangkat, seperti kemampuan untuk
memindahkan kursor di layar,” katanya.

Dalam cuitan Musk, miliarder itu mengklaim bahwa versi
teknologi yang lebih baru dapat digunakan untuk membantu orang yang lumpuh
untuk berjalan lagi.

Meskipun chip otak menunjukkan hasil
yang menjanjikan di bidang medis, banyak ahli melihatnya sebagai cara untuk
memperluas kecerdasan manusia dan sebagai senjata melawan AI.

“Jika kita mengunggah pikiran
kita ke cloud, apa yang terjadi jika kita tidak lagi sanggup membayar
pemeliharaan? Ini menjadi tantangan tentang bagaimana kita menjaga pikiran kita
tetap privasi dan kepemilikan atas pikiran kita sendiri,” tambah Schneider.

(MIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *